Jogja Memang Gak Ada Matinyaa

23.29.00

Yes….akhirnya anak pemula ini bisa nulis lagi, setelah sebelumnya curhat ga jelas di ALAMAK MANTAB KALI Puncak B-29. Kali ini aku mau cerita lagi pengalamanku sewaktu di Jogja, kota pelajar, kota gudeg dan wisata kuliner yang luar biasa, yang dikenal dengan harga kaki lima rasa restoran bintang lima(Alamakkk…mantab kali kata-katanya).

Masih dari kelanjutan solo travellingku, setelah mensyukuri dan menikmati betapa indahnya ciptaanNya di sebagian kecil daerah Kabupaten Lumajang akupun beranjak, melangkahkan kaki dan mata memandang kedepan depan untuk, melanjutkan perjalanan dan pengalaman selanjutnya.
Oia, sedikit curhat boleh kan ? (Cerita aja, siapa juga yang ngelarang..hahaha). Sebelumnya aku pernah tinggal beberapa bulan di Jogja karena ada training di salah satu hotel di Jogja dari sekolah. Pas nyampek di Jogja aku terkejut lahir batin, terkejut sama keramahan dan budayanya. Tau sendirilah, aku kan batak berwatak keras yang tinggal di daerah yang penuh dengan omongan yang keras dan yang ga terlalu memperdulikan orang sekitar. Nah, pas aku nyampek Jogja dalam perjalanan ke tempat tinggal sementara, orang disekitar yang aku ketahui adalah tetangga baruku nyapa aku dengan senyuman yang tulus dan nawarin aku untuk mampir dan ngobrol (maklum, aku kan orangnya ganteng, itupun kata mamakku ya…hahaha). Sejak saat itulah aku jatuh cinta sama Jogja. Dan pas ada kesempatan untuk balik lagi aku excited kalii untuk datang ke tempat yang uda aku anggap sebagai rumah keduaku.
Oke, setelah perjalanan yang amat panjang dari Lumajang akhirnya aku nyampek juga di Jogja.




















Untuk perjalanan ini harus kuakui kalo tujuan wisataku tergolong mainstream, maklumlah budgetku minim kali, tapi untuk perjalanan selanjutnya aku bakal jelajah sisi lain jogja.


Baiklah,sesampainya di Jogja, aku langsung ke target pertama, kelilingi Jogja dengan Trans Jogja (yeyy…..kapan lagi keliling Jogja dengan 3rb perak kalo gak sekarang). Abis puas muterin Jogja, aku lanjut ke Jalan Malioboro, dan WAWWW, ga ada yang berubah, masih sama kayak yang dulu. Alamakkk, senang kali rasanya bah bisa balik lagi kesini. Kebetulan, pas lagi jalan di Malioboro ada Festival Budaya Ruwahan Apeman Malioboro yang ke V. Bah, semakin seru aja perjalananku di kota pelajar ini.





















Setelah berpanas-panasan ria di jalanan malioboro, akupun langsung ke objek wisata selanjutnya yaitu Taman Budaya dan Benteng Vredeburg. Dan sesuai rencana sebelumnya, untuk perjalanan yang mainstream ini aku lebih memilih untuk jalan kaki dari satu objek wisata ke objek lainnya biar lebih bisa dapat atmosphere keramahan masyarakat jogja, biar kayak bule juga lah (alasan aja itu, padahal karna gak punya uang buat bayar rental motor…hahaha).
Dan pada saat malam hari, akupun langsung jalan pusatnya gudeg jogja, yaitu di jalan wijilan. Disini banyak warung gudeg yang harganya bervariasi. Sebelumnya aku tanya dulu sama temanku yang dijogja mengenai tempat gudeg terenakk. Dan setelah nyampek di sentra gudeg jalan wijilan dengan berjalan kaki akupun langsung masuk ke salah satu warung yang udah direkomendasikan temanku, dan hasilnya mantab mennnn.


























Setelah kenyang,  perjalananku pun berlanjut ke alun-alun selatan jogja, pohon beringin. Konon ceritanya, kalo kita bisa berjalan lurus melewati kedua pohon itu, permohonan kita bisa tercapai loh, seru kan ??  Tapi sayangnya dari banyaknya orang yang nyoba termasuk aku, ga ada satupun yang bisa berjalan lurus ngelewatin pohon itu. Wahh, aneh juga ya, menyimpan sejuta misteri. Disini rame kali, dari anak-anak hinggap orangtua berkumpul ditempat yang dipenuhi kemerlap lampu malam.










































Setelah puas jalan-jalan di alun-alun selatan jogja, akupun langsung putar arah kakiku ke alun-alun utara jogja atau di monument 11 maret. Pas nyampek disana, waww….rame banget. Masih sama kayak dulu,banyak anak muda dan orang tua dari berbagai penjuru kota ngumpul disini. Dan seperti biasa, aku langsung pasang mata untuk nyarik kawan baru lagi (mana tau diajak jalan-jalan gratis…hahahaa). Gak terasa, obrolan omong kosong kami berlangsung lama, sampek jam 4 pagi, dan akupun memutuskan untuk berjalan lagi mengitari monument 11 maret ini. Karena keadaan yang uda sepi dan kondisi mata yg uda 5 watt akupun tidur aja di tempat duduk yang ada di seputaran monument 11 maret bersama bapak-bapak penjual kopi keliling.
Huayammmmmm…..gak terasa uda jam 8 pagi, dan akupun terbangunkan oleh suara berisik yang berasal dari kendaraan motor yang melintas. Abis bangun, akupun langsung mandi di toilet umum dan langsung makan nasi kucingnya jogja (ga modal banget ya,, tidur dijalanan, mandi di toilet umum, dan makan nasi jingo….hahahaaa). Tapi itulah aku, objek wisatanya memang mainstream, tapi caranya anti mainstream broooo (ngeles lagi nih..hahaa). Setelah badan wangi, perut kenyang, akupun melanjutkan perjalanan dengan mata kakiku ke pasar beringharjo. Disaat orang berburu souvenir ke malioboro, aku pergi ke pasar tradisional beringharjo. Kenapa ? Karena feelnya disini lebih terasa, interaksi dengan masyarakat lokal lebih kenak. Huh,pokoknya mantablah. Setelah puas beli oleh-oleh, akupun ngelanjutin perjalanan ke Pantai Parangtritis, yang konon katanya pantai tempat Nyi Roro Kidul bersemayam. Wah,mantab kali yaaa.  Dan setelah 1,5 jam perjalanan dari pasar beringharjo naik angkutan umum akhirnya akupun nyampek di pantai parangtritis.




































Akupun langsung jalan-jalan disepanjang pantai ini yang didominasi oleh wisatawan domestik. Ada perbedaan yang kurasakan di pantai ini dibandingkan kebanyakan pantai di bali (bukan karna banyak bule yang berjemur ya). Perbedaan itu ada di aktivitas wisatanya, disini ada delman yang bisa disewakan untuk bisa berkeliling disepanjang pantai ini dan permainan paralayang. Disisi lain, aku juga ngerasa rasa toleransi yang beda. Contohnya, kemarin ada wisatawan yang berpakaian sexy ataupun minim, seketika itu juga banyak orang yang melihatnya dengan lirikan yang berbeda menurutku. Tapi entahlah, semoga aku salah menilai. Secara keseluruhan pantai parangtritis luar biasa. Setelah puas berjalan-jalan akupun memutuskan untuk mengakhiri perjalananku disini. Dengan berakhirnya perjalananku di parangtritis ini, maka berakhir pula perjalananku di kota jogja yang luar biasa ini. Next time kalo aku ke jogja lagi, aku  bakal kunjungi sisi lain jogja yang kutau punya cerita unik. Thank you very much jogja !!!

You Might Also Like

0 komentar

©CeritaSiTongat 2014.. Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Followers

Kedan Awak!

Translate