Danau Toba Yang Terlupakan

23.12.00

Njirrr!
Kata itu yang pertama kali terucap waktu aku buka blog ini lagi, uda lama banget, jangankan untuk nulis, untuk buka blog ini aja gak pernah lagi. Huaaaaaaa... #jedotin pala ke tembok. Okelah, mari mulai lagi dari awal. Ini celotehanku waktu aku backpackeran ke Danau Toba liburan semeser tahun lalu,kebayang kan betapa lamanya aku gak nulis, jadi gak enak nih sama followerku ahahhaa. Jadi ceritanya kali ini aku ga sendiri travelling ke Danau Toba, aku ditemani someone special. Cieee, ahahaa. Sesuai kesepakatan, kami berangkat pagi itu menggunakan sepeda motor dari Kota Pakam menuju Parapat, perjalanan ini ditempuh dalam waktu 3.5 jam. Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya kami nyampek di Parapat. Yuhuuu, our journey start here. Gak nunggu lama, kami langsung pergi menuju penyebrangan kapal buat ngangkut kami ke Pulau Samosir, iya pulau yang ditengah Danau Toba itu loh. Setelah ngebayar biaya penyebrangan 24rb buat berdua plus motor yang kami pake kami langsung nyari tempat duduk dikapal. Sekitar sejaman, akhirnya kami sampek juga di Pulau Samosir, karna waktu yang uda mulai sore, kamipun langsung nyari tempat buat naruh barang barang dan istirahat di daerah wisata tuk tuk. Banyak penginapan yang disini, tinggal milih dan nyesuaikan aja sama isi dompet. Setelah keluar masuk beberapa penginapan, kamipun milih buat stay di Carolina Hotel yang deket sama Danau Toba dan harganya juga cocok lah dikantong aahaha. Setelah check in kami langsung brangkat menuju Tao Sidihoni. Tao dalam bahasa batak berarti Danau. Perjalanan dari Carolina Hotel menuju Tao Sidihoni memerlukan waktu 1.5 jam, lumayanlah jaraknya. Setelah nyampek sana, "Iyahh", begitulah ekspresi pertama kami ngeliat danaunya, ekspekstasi yang terlalu tinggi yang akhirnya buat kami kecewa.

Danau Sidihoni
Tao dalam bahasa Batak yang berarti Danau.

Kerbau yang sedang mandi di Danau Sidihoni
Its ok, travelling itu bukan hanya sekedar melihat tempat bagus buat photo, tapi travelling mengajarkan kita banyak hal, salah satunya untuk selalu bersyukur apapun yang terjadi dan kamipun memutuskan buat istirahat sebentar disini sambil  menikmati cemilan yang uda kami beli sebelumnya. Setelah cukup dirasa buat istirahat, kamipun ngelanjutin perjalanan kami ke Menara Pandang Tele, yang katanya bagus untuk melihat Danau Toba. Jarak tempuh dari Danau Sidihoni ke Menara Pandang Tele lumayan jauh, sekitar satu jam dengan kondisi jalan yang waww, manteb broohhh, jalanan menanjak dengan pemandangan yang luar biasa indahnya. Setelah nyampek disana kamipun menikmati Danau Toba dari ketinggian. Oh, Danau Toba terlihat cantik dari atas sini. Ajibb, pemandangannya luar biasa.
Aslinya lebih indah dari ini hahaa


Menjelang senja kami langsung melanjutkan perjalanan ke Pangururan, Pantai Pasir Putih, ya disini ada Pantai, aneh juga ya, di danau kok ada pantai, ah, ga tau ah namanya apa, katanya sih pantai ahahaha. Setelah satu jam perjalanan akhirnya kami sampai  di Pantai Pasir Putih, meskipun pasirnya gak seputih pasir di Pantai Nusa Dua atau Pantai Nyang Nyang Uluwatu.

Gapura Pantai Pasir Putih


Pantai Pasir Putih walaupun gak putih kali pasirnya ahaha


Setelah menikmati sunset yang malu malu menunjukkan keindahannya, kamipun memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk beristirahat dan persiapan buat jalan besoknya.
Tring....Tring...Tring....Tring suara alaram berdering keras dan pas aku liat jam uda jam 8 lewat, alamakk kami kesiangan. Dengan tergesa gesa kami mandi dan langsung brangkat ke Parhapuran Sialagan atau Batu Pengadilan Raja Sialagan, Raja Batak kala itu.

Pintu Masuk Batu Pengadilan

Ruang Pengadilan buat para penjahat jaman dulu



Konon ceritanya, ditempat ini Raja Batak, Raja Sialagan mengadili setiap penjahat yang berbuat salah di ruang persidangan ini. Edannn, ternyata sistem peradilan udah ada sejak dulu ya. Wah, manteb kali bah. Sebenarnya tempat ini punya potensi yang bagus untuk dikembangkan, hanya saja pengelolaannya sangat minim, contohnya waktu kami berkunjung kami ga tau harus parkir dan melapor kemana, ditambah lagi ini kan tempat sejarah, seharusnya ada pemandu wisata ataupun brosur yang bisa dibaca mengenai daya tarik wisata ini. Iyah, begitulah tempat wisata kebanyakan di Indonesia, habis manis sepah dibuang, setelah melewati masa kejayaannya, Danau Toba seakan akan tak berpenghuni, sepi dari kunjungan wisatawan. Oh, Danau Tobaku semoga kelak engkau akan menemui kembali masa kejayaanmu. Ah, sudahlah, jadi setelah berkeliling di  seputaran objek wisata ini kami langsung menuju ke Huta Siallagan, rumahnya Raja Sialagan pada jaman itu.





Sebenarnya banyak yang bisa dipelajari dari Huta Sialagan ini karna objek wisata ini termasuk bagian dari sejarah, hanya saja seperti objek wisata sebelumnya, waktu kemarin datang ke Huta Sialagan ini gak ada ditemukan guide atau pemandu wisata untuk menjelaskan cerita sejarah mengenai objek wisata ini, jadinya yah gitulah orang yang datang kesini hanya bisa berphoto karna gak ada aktivitas yang bisa dilakukan di objek wisata ini. Miris memang, tapi begitulah adanya, sayang banget yak, yang seharusnya kita bisa dapet banyak pelajaran dan pengetahuan tapi kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Ah, sudahlah nikmati ajalah yakan, daripada menggerutu dan ngerusak liburan, kan sayang banget jauh jauh dateng cuman buat menggerutu ahahaa.  Udah puas jalan jalan disekitar Huta Sialagan ini kamipun langsung kembali ke penginapan buat check out dan kembali ke Medan. Edann!!! Perjalanan dan pengalaman yang luar biasa bisa dateng lagi ke Danau Toba, danau yang dulu di bangga-banggakan kini telah meredup seiring semakin banyaknya destinasi wisata yang dinilai lebih menarik dibandingkan Danau Toba. Oh, Danau Toba, engkau bukan hanya sekedar danau, tapi juga saksi peradaban bangsa Batak. One day, i'll be back to show them how great you are! Engkau harus berjaya kembali, bangkit dan ceritakan sejarahmu pada kami, oh Danau Toba.


You Might Also Like

0 komentar

©CeritaSiTongat 2014.. Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Followers

Kedan Awak!

Translate