Liburan ke Mentawai - Membuat Racun Panah Suku Mentawai (Part 2)

02.57.00

"Abis ini kita ngapain bang?" tanyaku pada bang dwi, guide yang menemani kami selama di Mentawai
"Ntar lagi kita mau buat racun panah khas suku Mentawai"
Bah, seru juga ya bisa ngeliat langsung proses pembuatan racun panah suku Mentawai yang uda terkenal banget dan salah satu racun panah yang mematikan katanya. Tapi sayang, racun ini tetap ngga bisa masuk meracuni hatimu yang uda lama membeku. Huft!

Oh iya, sampai sekarang, masyarakat adat Mentawai, khususnya para Sikerey yang ada di Pulau Siberut masih suka sama yang namanya berburu cinta, eh berburu hewan maksudnya. Tapi jangan kelen pikir orang itu berburu pake mobil landrover sama senapan AK-47 di tangan. Alamak! Itu mau berburu atau mau perang. Jadi, mereka ini berburu masih dengan cara yang sama dengan leluhur mereka dulunya, masih pake busur dan anak panah. Tapi itu aja ngga cukup, masih harus ditambah lagi perlengkapannya, mereka pake racun di ujung anak panahnya supaya hasil buruannya klepek-klepek hanya dengan sekali panah aja. Jadi, buat kelen yang pengen gebetannya klepek-klepek hanya dengan waktu sesaat, panah beracun ini bisa jadi solusi dari masalah kelen selama ini. Cemana? Tertarik? Cek ig kita sisstttttt

Panah adek bang!
Kegiatan berburu cuman dilakukan sama anak lelaki suku Mentawai. Mereka pun udah dilatih sejak kecil untuk menggunakan panah, awalnya mereka pake panah bambu, trus pas mereka uda berumur sekitar 10 tahun, mereka diajarin nyimeng sama buat bom. Keren kan! Ngga deng, itu boong.
Ketika anak lelaki Mentawai uda berumur sekitar 10 tahunan, mereka diajarin buat panah beracun, make panah orang dewasa dan cara berburu di hutan. Sebelum mereka turun ke lapangan untuk perburuan pertama, biasanya pihak keluarga mengadakan pesta adat biar anak mereka dijauhkan dari marabahaya.
Hewan yang sering diburu itu babi hutan, rusa sama monyet. Dan monyet merupakan hasil buruan yang paling dibanggakan ataupun prestise bagi masyarakat Mentawai karena monyet merupakan hewan yang diistimewakan (sakral). Namun, karna itu juga hewan endemik Mentawai, khususnya jenis monyet semakin sedikit bahkan ada yang terancam punah.

Nah, balik lagi ke panah beracun. Untuk membuat panah beracun itu ngga gampang loh, susah kali pun. Kelen harus mendaki gunung, lewati lembah sama bertapa di Gunung Kawi. Ah, masa sih sampek segitunya di? Gak deng, ini lebay namanya.

Okay lah kita serius.
Untuk membuat racun panah ini, ada beberapa bahan yang diperlukan, seperti Omay atau sejenis daun-daunan, Doro atau cabe rawit dan Baklau sejenis lengkuas, tumbuhan khas Mentawai yang mengandung racun. Untuk cara membuatnya, semua bahan-bahan tadi dimasukkan ke dalam kotak kayu yang berukuran 30x20 cm dan digiling atau dihaluskan pake pemukul kayu. Tanpa menyentuh tangan, ramuan dimasukkan ke dalam penjepit, dan diambil sarinya.

Alat dan bahan buat panah beracun
Abis itu, saripatinya ditampung ke dalam belahan bambu, dan anak panah pun diambil dari buk-buk atau wadah bambu panjang dan siap diolesi racun. Sikerey pun ngambil serumpun anak panah dan mengolesi racun ke ujung anak panah yang terbuat dari batang arirubuk, semacam aren berduri gitu. Dengan penuh kehati-hatian, kuas bulu kera pun melambai-lambai melumuri ujung anak panah yang berukuran sekitar 12 cm. Setelah semua anak panah udah diolesi racun, anak panah itu dikeringkan diatas tungku. Melumuri dan mengeringkan anak panah ini bisa dilakukan beberapa kali, ketebalannya sesuai selera pemilik anak panah itu. Kalo ngga langsung dipakai, racun panah ini bisa bertahan sekitar 2 bulan.


Aman Geresi lagi mengolesi ujung anak panah dengan racun

"Kira-kira, berapa lama waktu yang dibutuhkan sampek racunnya bereaksi pak?" tanyaku pada Aman Geresi yang membuat racun panah ini
"Tergantung hewan buruannya, kalo babi hutan, biasanya paling lama sekitar 30 menit, kalo monyet bisa lebih cepat, sekitar 15 menitan, karena ukurannya lebih kecil dari babi hutan" jawab Aman Geresi
"Emang ngga kabur hewan buruannya pak, kan waktunya lumayan lama itu" tanyaku lagi
"Tidak, biasanya setelah kena panah beracun mereka bergerak jauh lebih lambat dari sebelumnya, jadi masih bisa diikuti pergerakannya" jawab Aman geresi lagi
"Trus, diapakan hewan buruan yang uda kenak panah beracun itu pak?" tanyaku penasaran
"Dimakan lah, biasanya kita jadikan sop atau dipanggang" jawab Aman Geresi dengan penuh semangat
"Kan hewan buruannya uda kenak anak panah yang beracun pak, emang ngga apa kalo dimakan?" tanyaku dengan penuh keheranan
"Ngga apa lah, kan racunnya cuman buat hewan, bukan buat kita, manusia" jawabnya dengan tertawa.



Oh iya, katanya kalo kelen kenak racun panah ini, pilihannya cuman dua, amputasi/potong bagian yang terkena racun atau mati. Alamakk! Seram kali bah! Bisa sampek kayak gitu efek racunnya. Tapi yang aku bingungkan itu, dengan racun yang mematikan, mereka kok masih bisa makan hewan buruan yang uda kenak anak panah beracun ya. Padahal, mereka bilang, racun itu bereaksi ke seluruh tubuh hewan yang terkena anak panah. Hebat kan??? Ah, ntahlah! Capek awak mikirkannya. Kelen tanyak aja lah sama janda yang bergoyang, eh rumput yang bergoyang maksudnya.

Penampakan racun dan bahan-bahannya



You Might Also Like

2 komentar

  1. Hai.. Slm kenal jg. Saya dr padang. Kirain td Kelen nama seseorang gitu... Ternyata kekinian dr kalian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo! Makasih uda berkunjung :)
      Hahaa bukan bahasa kekinian kok, itu bahasa khas Medan. Semoga ngga bingun ya bacanya hehee

      Hapus

©CeritaSiTongat 2014.. Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Followers

Kedan Awak!

Translate