Liburan ke Mentawai - Menikmati Kehidupan Masyarakat Mentawai (Part 1)

16.57.00

Pernah dengar nama Mentawai?
Hah? Hawai?
Bukan!!!!!
Oh...Pawai.
Alamakkk!! Bukan itu maksudku!
Oh, ini nama mantanmu itu ya di? Huahahhaasemmm

Oke....oke biar aku jelasin dulu sama kelen.
Jadi, nama Mentawai yang aku maksud itu adalah Kabupaten Mentawai yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Iya, salah satu destinasi yang terkenal sama ombaknya. Kalo kelen seorang surfer, pasti nama Mentawai ngga asing lagi kan??? Memang, Kepulauan Mentawai ini punya ombak yang luar biasa, ombak yang bisa bawak kelen hanyut kembali ke masa lalu. Eakkkkk

Eitsss, tapi kita ngga ngebahas Mentawai dengan ombaknya ya. Kita mau ngebahas suku Mentawai dengan keindahan dan kearifan budayanya. Iya! Selain punya keindahan alam, Mentawai juga punya budaya yang luar biasa unik.
Kelen tau kenapa unik?
Nah, pas kali itu!
Unik karna budaya yang ada di Mentawai ngga akan kelen jumpain ditempat lain selain di Mentawai.
Ah, ya iyalah di! Kan juga tiap-tiap daerah kan punya ciri khas masing-masing!
Oh, gitu ya. Huahahaaa
Gak deng, unik yang aku maksud itu karena kehidupan dan budaya mereka yang sebagian besar masih hidup secara tradisional, mulai dari makanan sehari-hari yang masih makan sagu, berburu di hutan pake panah, sampek pengobatan yang mereka lakukan masih ngambil obatnya dari alam. Kalo ada pemilihan duta alam dan lingkungan, kayaknya orang itu cocok ya jadi dutanya. Yok kita ajukan! Hahhaa

Dermaga kapal menuju Kampung Adat Mentawai

Oke kita lanjut, jadi, tgl 5-9 Agustus kemarin, aku anak yang baik dan soleh ini dapet kesempatan dari Skyscanner Indonesia untuk berkunjung ke salah suku pedalaman di Mentawai, tepatnya di Rorogot, Siberut Selatan. Untuk kesini ngga gampang, kelen perlu usaha ekstra untuk bisa sampek di rumah adat Mentawai ini, karna aksesnya masih susah. Tapi tenang aja, proses yang kelen lewatin pasti sepadan dengan hasil yang kelen nikmatin nantinya. Serius! Mentawai ngga mengecewakan la pokoknya!

Dan akhirnya setelah perjalanan sekitar 10 jam dari Padang, kamipun sampai di Uma atau Rumah Adat Mentawai, rumah adat yang terbuat dari kayu rotan ini pun menyambut kedatangan kami dimalam yang gelap. Pas nyampek sana, kami pun langsung nyarik air untuk nyuci kaki karna medan yang kami lewatin tadi becek dan berlumpur. Luar biasa memang perjuangan kesini!
Karna capek seharian jalan terus, abis makan malam kami langsung Bolam, bobok malam.

Uma atau Rumah Adat Mentawai

Ayo tebak, ini tengkorak apa, hayooo?

Besok paginya, abis sarapan kami berangkat ke Dusun Rokdok, perkampungan masyarakat Mentawai. Dari sini kami trekking sekitar 3 jam-an, jalur yang dilalui memang biasa, tapi kondisi jalanannya, alamakkk!! luar biasa lah! Jalanan becek dan berlumpur harus kami lewatin lagi karna hujan semalaman. Kondisi ini yang ngebuat perjalanan kami semakin seru, banyak yang jatuh sepanjang perjalanan ini. Ada yang jatuh cinta dijalan, ada yang jatuh ke masa lalu yang kelam, dan ada yang jatuh ke pangkuannya. Ih! Apasih! Kok jadi ngga jelas gini ya.
Okay! Jadi, di perjalanan ini, ada pengalaman yang gak akan aku lupakan, yaitu pas aku masuk kedalam lumpur, hampir setengah dari badan aku masuk lumpur. Kaget juga aku pas masuk lumpur itu. Kupikir itu lumpur hisap yang narik aku ke masa laluku dengan si dia yang tlah pergi meninggalkanku, tapi syukurlah itu cuman lumpur biasa. Fyuhhh!! Selamat awak!
Buat kalian yang mau ke dusun Rokdok, aku sarankan pake sendal ataupun sepatu gunung karena kondisi jalannya berlumpur dan licin. Oiya, trekking pole atau tongkat juga membantu!

Trekking ke Rokdok
Mau nyebrang di Rokdok pake Pompom atau perahu

Adek lelah nunggu antrian bang

Pas udah 3 jam trekking dan nyebrangin sungai pakek kapal, kamipun sampek di Dusun Rokdok, dusun yang dihuni 12 KK, yang masyarakatnya mayoritas atau hampir semua muslim. Pertama kali nyampek sini rasanya tenang kali, dusun ini damai kali lah, sunyi dan senyap kalo siang hari.


Rumah masyarakat Rokdok yang jaraknya berjauhan satu dengan lainnya

Abis itu, kami pun jalan ke rumah salah seorang Sikerey atau dukun di Mentawai.
Hah! Dukun???? Ngapain ko kesana di? Pengen cepet kaya ya??? Pengen ganteng??? Atau minta jodoh???
Alamakkk! Ngga lah! Jangan pikir yang macem-macem dulu. Sikerey disini itu bukan yang kayak ko pikirkan. Katanya, mereka itu lebih ke arah pengobatannya, atau bisa dibilang tabib atau dokter adat lah. Pengobatannya pun pake bahan-bahan dari alam. Tapi kalo kelen mau minta jadi ganteng atau cantik juga bisa kok. Kelen siapin aja photo artis atau orang yang kelen idolakan. Abis itu kelen jadikan itu topeng, dan kelen pake topengnya setiap hari. Nah, pasti kelen berubah. Iya, berubah jadi ngga waras. Cobain gih!

Rumah Aman Geresi, salah seorang Sikerey

Pas uda nyampek di rumah Sikerey, kami pun diajak makan siang. Tapi, ada yang beda sama makan siang kali ini. Iya, ada yang ulang tahun hari ini, namanya Anthony, salah satu peserta trip ini juga. Jadi, dibuatlah perayaan ulang tahun ala masyarakat Mentawai, pake kue sagu. Sederhana tapi berkesan. Selamat ulang tahun ton!

Abis makan siang dan perayaan ulang tahun Anthony, aku keliling-keliling kampung ini sebentar. Dari yang aku liat, dikampung ini ada mesjid juga, rumah-rumah warga disini masih pake rumah panggung dan masih ada tenda daruruat bekas tsunami kemarin. Kata bapak margot, orang lokal dikampung itu, kampung ini beruntung karena cuman ngerasain gempanya aja, bencana tsunaminya ngga nyampek kesini. Meskipun ngga sampek tsunami, tapi kejadiannya masih membekas di ingatan, katanya.

Mesjid di Rokdok

Sagu bakar, Mantabb!!

Ciyeee, dapet anak baru ni mbak

Menjelang sore, kami pun balik lagi ke Uma atau Rumah Adat Mentawai, tapi kali ini kami pulang dengan cara yang beda, kami naik pom-pom atau perahu kecil yang pake mesin. Kalo jalan kaki butuh waktu 3 jam-an, naik pompom ini cuman setengah jam-an. Jauh lebih cepat kan. Ngga cuman itu, naik pom-pom ini seru lagi, karena tinggi air sungai yang kami lewatin hampir sama dengan tinggi perahu yang kami tumpangi, rasa deg-degan bertambah, takut kalo pom-pomnya tenggelam. Trus, kalo naik pom-pom ini ngga boleh banyak gerak loh, karna pom-pomnya rapuh, kayak kamu. Iya, kamu.

Anak Mentawai, Lapitet dan kawannya di atas  Pompom. Makasih lapitet bantuannya!

Hampir setengah jam-an naik pom-pom, kami pun nyampek di pintu masuk Uma, dari sini kami harus trekking lagi sekitar 20 menit-an. Dan agenda sore ini adalah buat racun panah. Karena masyarakat adat Mentawai masih suka berburu pake panah, jadi mereka naruh racun di ujung panahnya biar hewan buruannya bisa langsung mati.
Kelen mau tau cemana pembuatan racun panahnya? Kelen tunggu la ya postingan selanjutnya.


You Might Also Like

2 komentar

  1. Wahh pengen ke mentawai tapi blm kesampean nih..
    soalnya harga tiketnya dari jakarta.....
    *cek isi dompet*

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak tiket promo kok mbak, semoga segera kesana ya mbak. Amin :)

      Hapus

©CeritaSiTongat 2014.. Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Followers

Kedan Awak!

Translate