Aku, Ranu Kumbolo dan Motorku

13.51.00

-Cerita ini tentang sebuah mimpi dan akan terus jadi mimipi kalo aku ngga bangun untuk mewujudkannya

--------------------------------------------------------------
Kalo kelen nyari artikel tentang transportasi menuju Semeru, akses kesana, penginapan, dan teman-temannya, lebih baik kalian tutup aja halaman ini. Cari yang lain karna kalian ngga akan menemukannya.
Tapi, kalo kelen  mau tau pengalaman dan pelajaran apa yang uda Semeru kasi, kalian ada di halaman yang tepat. Cheers! :)
---------------------------------------



Pernah dengar Danau Ranukumbolo??? Atau Gunung Semeru???
Hm, nama itu pasti ngga asing lagi sama kelen kalo kelen anak kekinian yang hobinya menaklukkan gunung. Alamak, gunung kok ditaklukkan, cewek tuh di taklukkin, dibuat klepek-klepek.
Fenomena mendaki emang uda jadi trend sekarang ini apalagi semenjak ada film 5 KM yang buat setiap orang terhipnotis akan megahnya pesona pegunungan.
Sebenarnya, akupun bagian didalamnya, bagian dari orang-orang yang terpesona sama keindahan gunung lewat berbagai platform media sosial. Tapi aku bukanlah bagian dari mereka yang hanya mengejar gengsi tapi ngga ngerti esensi dari pendakian itu.
Ah, udahlah.
Aku ngga mau ceritain tentang itu karna aku bukanlah pecinta alam, aku itu pecinta lagunya alam, kayak mbah dukun dan sabu. Eh, ini ngomongin apaan sih!

Oke deh, jadi aku pengen ceritain salah satu pengalaman yang ngga akan pernah aku lupakan, perjalanan terjauhku yang ngga pernah aku pikirkan sebelumnya, yaitu naik motor dari Bali ke Semeru.
Hm, cemana? Jauh kan???
Yaelah diii, gitu aja ko bilang jauh! Jauh itu kalo ko pergi dari masa sekarang ke masa lalu sama mantan, abis itu ngga bisa balik lagi ke masa sekarang. Itu baru jauh. Jlebbbbb!!!!

Oke..oke
Kita serius.
Jadi, sesuai  waktu yang disepakatin sebelumnya, malam itu, aku, bang darmadi sama kak ika, pacarnya, berangkat dari Bali ke Tumpang, meeting point menuju Ranupane.
Kami bertiga berangkat dari Bali, sebelumnya bang Rio uda duluan berangkat naik kereta dari banyuwangi, trus disusul sama mas edo dkk dari Surabaya. Kami janjian bakal ketemu di Tumpang-Malang.

Jadi, setelah semua beres, kami berangkat menembus gelap malam dari Denpasar menuju pelabuhan Gilimanuk. Alamak! Seram juga perjalanan kemarin itu, awak sendiri (lagi), sedangkan bang darmadi enak berdua, anget coy!
Perjalanan ke Semeru kemarin buat aku inget sama perjalanan ke Banyuwangi sebelumnya, perjalanan yang menyedihkan karna aku sendiri (lagi dan lagi) berangkat dari Bali. Untuk cerita lengkapnya kelen bisa baca disini
 
Road trip kali ini memang punya banyak cerita dan kenangan buat aku.
Perjalanan naik motor selama 20 jam dan cuman tidur 2 jam buat badan aku pengen cepet-cepet nyari kasur empuk untuk tidur dan istirahat.
Ngga cuman itu, banyak kisah lucu dan menarik selama perjalanan dari Bali ke Ranu Kumbolo, mulai dari ban pecah di hutan bondowoso, lalu bocor lagi di probolinggo, dan (lagi) di malang sampek aku harus muter-muter kota Malang karna salah jalur. Alamak! Pengalaman yang ngga akan pernah aku lupakan.

Rest area di Paiton, Situbondo. Mantab!

Nambal ban lagi coy!

Memang betul apa yang dibillang orang bahwa tantangan dan rintangan itu menjadikanmu lebih kuat lagi (kalo responmu benar).
Sama kayak pengalamanku yang pertama kali (hampir) mendaki ke gunung tertinggi di Pulau Jawa itu, semua serasa kayak mimpi.
Perasaan baru kemarin aku males-malesan dikosan, baru kemarin banget aku makan bakso langgangan di sebrang jalan. Dan baru kemarin banget coli massal di sekolahan. Ini sih sering. Eh!
Dan semua bener-bener ngga terasa.
Ngga terasa kalo siang itu aku uda muter-muter di kota Malang karna salah jalur.
Ngga terasa aku uda ada di Ranu Pane, trus malemnya lagi uda nyampek di Ranu Kumbolo, trus main-main lagi ke kota Malang.
Memang, ngga ada yang tiba-tiba, apalagi kebetulan, semua itu uda direncakanNya. Dan akupun orang yang ngga percaya sama yang namanya kebetulan, aku percaya kalo kita sedang memainkan peran yang uda di skenariokan oleh sang Sutradara yang ngga pernah gagal.

Aku bersyukur banget atas perjalanan kemarin, perjalanan itu benar-benar aku nikmatin setiap detik perpindahannya. Aku yang terbiasa travelling dgn jadwal perjalanan yang terperinci dan terencana tiba-tiba berubah menjadi pejalan yang seperti air, just let it flow. Buat kelen yang terbiasa mengatur jadwal perjalanan secara detail, cobain sesekali gaya perjalanan get lost! Bukan berarti ngga direncakan ya, tetap buat rencana, tapi sifatnya ngga mengikat. Get lost! itu seru loh!

Dari perjalanan kemarin aku nemuin sesuatu yang ngga pernah aku temukan sebelumnya, kenikmatan dalam perjalanan, karna biasanya secara ngga sadar aku dikejar-kejar sama jadwal perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya yang buat aku lupa untuk menikmati setiap proses perjanan yang aku lalui.
Bahkan, sampek kosan pun masih ngga percaya juga, semua itu kayak mimpi. Ngga pernah aku bayangin sebelumnya, karna yang aku bayangkan itu cuman kamu, kamu, dan kamu seorang. Plakkk!!!

Malam ini, aku masih ingat betul perjalanan (hampir) ke Semeru kemarin.
Masih ingat apa yang diceritakan dan tertawakan di mobil Jeep yang nganterin kami dari Tumpang ke Ranu Pane.
Masih ingat betul gimana ekspresi kagum akan keindahan hijaunya bukit teletubies bromo yang membentang luas.
Aku juga masih ingat betul saat teman-teman yang lain uda pada hilang semua sehabis aku beresin carrierku, dan waktu itu aku pikir mereka uda berangkat ke Ranu Kumbolo lebih dulu. Lucu ya bayangin semuanya sekarang, lucu ngebayangin ekspresi panik sekaligus sedih dari wajahku yang abis bolak-balik Ranu Pane ke Pos Perijinan pendakian untuk nyari mereka, takut kalo aku ditinggalkan.
Dan, dari situ aku belajar (lagi) untuk berpikiran postif, tetap tenang, jangan panik dan berani ambil keputusan hingga akhirnya aku ketemu sama mereka di ruangan briefing di kantor bawah. Lucu memang, seharusnya aku ngga perlu bolak-balik, toh tinggal turun ke pos bawah untuk briefing.
Tapi, aku percaya semua ngga ada yang kebetulan, semua itu pembelajaran untukku biar lebih tenang dan berani ambil keputusan. Keep positive!

Sang penebas jalanan. Roarrrr!

Pos Perijinan TNBTS, padahal tinggal turun kebawah ketemu mereka. Haikksss ☺
Jalur menuju ruangan briefing sbelum pendakian dimulai


Yang ngga kalah membekas dalam ingatanku itu ialah proses trekking dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo. Meski bukan pendakian pertama, pendakian kala itu begitu berbeda, begitu mendebarkan namun menyenangkan, masih ada rasa ngga percaya kalo aku uda melangkah sejauh ini. Mimpi yang selama ini aku harapkan bisa tercapai juga karna aku ngerasa perlu untuk bangun dan mewujudkan mimpiku selama ini.
Buat kelen yang punya mimpi apapun itu, jangan cuman bermimpi, tapi wujudkanlah.
Bukankah sebuah mimpi akan berarti ketika ia berubah menjadi aksi? Lets stop dreaming and start doing!

Trekking ditengah gelapnya malam dan dinginnya hutan Taman Nasional Bromo Tenggere Semeru memang meninggalkan kesan tersediri, ngga cuman cerita mistisnya, tapi keramahan para pendaki disana patut diacungi jempol! Setiap berpapasan dijalan, kita saling sapa dan menyebarkan semangat satu sama lain. Hal sederhana namun penuh makna.
Selain itu karna berada dirombongan yang ada wanitanya dan yang jarang mendaki kayak aku ini ngebuat perjalanan kami sedikit lebih lambat. Awalnya yang ramai-ramai mendaki dari Ranu Pane, berbagi cerita, canda tawa dan semangat satu dengan yang lainnya tiba-tiba berubah ketika kami memasuki pos 2, keramaian yang terjadi sebelumnya mendadak sepi. Iya, kami ditinggal oleh rombongan. Perkataan awal "naik bareng-bareng, capek istirahat aja, ngga usah buru-buru" mendadak cuman jadi ungkapan penghibur semata.
Ternyata benar apa yang dibilang pendaki senior ditempat tongkrongan, "Di gunung bakal keliatan mana kawan dan mana lawan, kalo mau liat sifat aslinya ajak ke gunung aja, ntar pasti keliatan belangnya". Kalimat sederhana tapi begitu benar adanya. Dan, kalimat "maaf, kalian jalannya lama banget, jadi kami jalan lebih dulu, takut kemalaman bangun tenda" pun jadi pembelaan atas tindakan yang mereka lakukan, kekecewaan pun tak terbendung lagi.
Dan semenjak saat itu, aku jadi "trauma" dalam mendaki, apalagi memilih teman pendakian.
Buat kalian yang pengen mendaki, saranku pilihlah teman mendaki yang uda kalian tau gimana sifatnya. Ini penting! Gunung itu bukan kayak objek wisata lainnya, gunung itu wisata minat khusus yang butuh persiapan yang matang, bukan cuman berbekal sepatu gunung, jaket, dan carrier. Lebih dari itu, dibutuhkan pengetahuan akan lintas alam kalo terjadi sesuatu yang ngga diinginkan, Dan ini juga yang jadi pertimbanganku untk ikut mendaki kemarin karna mereka itu orang yang paham sama jalur Semeru. Akan tetapi tak ada gading yang tak retak. Ngga ada manusia yang sempurna. Dan, aku belajar lagi dari sana untuk ngga berharap lebih dan menggantungkan diri sama orang lain. I should do it with my own!

Perjalanan panjang dan melelahkan karna kurang tidur ngga ngebuat aku jadi lemah dan menyerah, aku tetap semangat meski dengan beban yang lumayan menguras tenaga dan memberi kesan tersendiri bagi pundakku. Alamak! Kok pundakku tiba-tiba ngilu ya!
Ritme yang awalnya bersemangat 45, perlahan menurun dan semakin menurun karna kami mulai kelelahan uda jalan hampir 7 jam, jauh lebih lambat dengan durasi pada umumnya, 5 jam.
Perlahan tapi pasti, semangat itu muncul lagi ketika Mas Edo bilang, "Lihat, itu Ranu Kumbolonya, lampu itu dari tenda pendaki"
Alamak! Langkah yang sebelumnya berat, perlahan mulai terasa ringan dengan adanya harapan dan jawaban dari pertanyaan kami sepanjang perjalanan tadi, "Ini kapan nyampeknya ya?" 😆😆😆

Semangat itu terus membakar kami untuk terus melangkah. Kalo sebelumnya tiap sepuluh langkah berhenti, kali ini kami berjuang melawan letih, kali ini istirahat setiap 10 menit sekali. Lelah memang, tapi bukankah kami harus terus berjalan untuk mencapai sebuah tujuan? Nikmati sajalah menjadi penyemangat tersendiri bagiku.
Dan perjuangan yang ngga kalah hebatnya itu waktu melewati ayak-ayak. Jalur berbukit naik turun harus kami lewati biar bisa sampek ke Ranu Kumbolo, untuk beristirahat dan bermimpi (lagi). Semangat itu ngebuat langkah kami terasa begitu ringan, dan ngga terasa akhirnya sampek juga di camp-site Ranu Kumbolo.
Meski nyampek larut malam, sekitar jam 1 dini hari, lagi, dan lagi, rasa letih itu rasanya hilang ketika nyampek disini. Rasa haru dan syukur terus terucap dari mulut ini. Sungguh sebuah mimpi yang menjadi sebuah bukti kalo mimpi itu butuh aksi.
Menikmati sejenak keadaan danau kumbolo di malam gelap buatku merasa tenang dan damai berada disini. Ketenangan bathin begitu terasa disini, jauh dari riuhnya suasana perkotaan adalah kebahagiaan tersendiri.

Ngga lama setelah itu, kami pun bagi tugas, yang pria mendirikan tenda, sedangkan yang wanita mendapat bagian untuk memasak makanan untuk kami makan. Sungguh kerinduan yang aku dambakan sejak lama, kesederhanaan dan kehangatan disaat camping bersama.

Ini besoknya. Maem yuk!
Dan beruntungnya lagi, saat itu ranu kumbolo tidak banyak pendaki yang berdiam disana, jadi tenda kami masih bisa dapet posisi  menghadap kedepan danau. What a great night! 
Setelah tenda berdiri dan perut terisi, kamipun beristirahat dalam sepi, sambil ku merenungi perjalanan malam ini. Sungguh pengalaman dan nikmat yang begitu besar dari Sang Kuasa. Sesuatu yang ngga pernah aku bayangkan bisa jadi kenyataan. Dan lagi, banyak pelajaran yang aku dapet kali ini, bahwa "Dalam hidup ini kita ngga cuman perlu mimpi, tapi juga aksi. Mari bangun dan wujudkan mimpimu!"



You Might Also Like

1 komentar

  1. Mantap jiwa Kak Tongat, kapan-kapan traveling bareng saya yak ;)

    BalasHapus

©CeritaSiTongat 2014.. Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Followers

Kedan Awak!

Translate